Rabu, 15 Februari 2017

zul fahri

KOMITMEN, HUBUNGAN, DAN PACARAN

Saya merasa perlu untuk menuliskan hal ini karena, ini tiba-tiba menyergap kewarasan saya ketika sekedar ngobrol dengan dua teman saya, Dedy dan Freddy. Entah darimana dan apa penyebabnya kami bertiga langsung terlibat dalam perdebatan yang sengit antara 3 masalah ini. Awalnya kami hanya membicarakan tentang apa yang orang-orang istilahkan dewasa ini dengan pacaran. Mungkin karena hanya saya yang tidak memiliki pasangan, saya mempertanyakan apa pentingnya sebuah fase yang dinamakan pacaran itu sediri. Dua teman saya ini merasa bahwa pacaran itu memang perlu di zaman sekarang ini. Saya menganalisa pemikiran mereka tentang perlunya pacaran kurang lebih demikian : pertama untuk mengenali pribadi lawan jenis kita demi melangkah ke hubungan yang lebih serius, kedua untuk mengetahui sejauh mana kita bisa menerima sifat pasangan kita, ketiga untuk memberikan kepastian tentang hubungan dan ikatan yang “kasat mata” yang sedang kita jalani.
Perdebatan dimulai ketika saya mempertanyakan tentang urgensi pacaran dalam rangka mengenal pasangan. Dedy dan fredy berpendapat bahwa pacaran awalnya memang didasari rasa tertarik dengan lawan jenis entah secara utuh maupun secara parsial. Mereka sepertinya tidak mempermasalahkan itu karena memang pada dasarnya ketika orang dalam fase pra-pacaran, kemungkinan besar masing-masing akan memperlihatkan sisi baik dari kepribadiannya. Atau barangkali masing-masing tertarik secara parsial atas kepribadian calon pasangannya itu. kemudian karena muncul sebuah keyakinan dalam benak masing-masing individu, mereka kemudian saling bersepakat untuk membangun sebuah hubungan yang kemudian dinamakan pacaran, meskipun masih didasari keyakinan, kecocokan, dan kemauan menerima yang masih parsial atas lawan jenisnya. Saya juga mengalami hal yang serupa ketika pacaran dulu. Karena adanya kecocokan sementara dan sepertinya bersifat parsial, dua insan tersebut memang dituntut untuk bisa mengenal lebih baik lagi dan bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing untuk melanjutkan hubungan pacaran ini atau bahkan jjika memungkinkan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi.
Dari apa yang mereka katakan menyiratkan bahwa mau disadari atau tidak akan muncul keteguhan hati dalam membina hubungan tersebut, entah keteguhan hati itu kepada diri sendiri atau kepada pasangan. Hanya saja dalam berpacaran masih tertinggal kemisteriusan masing-masing individu tentang jati diri dan kepribadiannya secara utuh. Kemisteriusan inilah yang mendorong satu sama lain berusaha saling mengenal dan memahami lagi. kemisteriusan ini pula yang dari arggumentasi mereka bila saya simpulkan, menjadi bahan bakar “pacaran”. Dalam berpacaran ini terdapat dua kemungkinan besar yang akan terjadi, yaitu putus (berpisah) atau jalan terus. Pihak yang menginginkan putus, baik satu maupun keduanya, maka keteguhan hatinya hanya berakhir sampai dirinya sendiri. Keteguhan hati, baik pada diri sendiri dan pada orang lain inilah yang didefinisikan Freddy sebagai komitmen. Dedy sepakat dengan freddy, tetapi dia memperjelas komitmen dengan menggambarkan komitmen sebagai kecocokan penerimaan yang dilanjutkan dengan adanya kesepakatan antara dua pihak. dua pihak itu bisa antara AKU dan SAYA, bisa juga antar individu.
Saya menganggap penerimaan dan kecocokan yang masih parsial tersebut sebagai sesuatu yang harus diselesaikan dalam membina sebuah hubungan yang baik, apapun hubungannya. Saya pikir hubungan yang baik akan tercipta bila antar individu telah melakukan penerimaan atas kepribadian individu lainnya secara utuh. Dalam alam berpikir saya, pacaran berada di tengah-tengah proses membangun sebuah hubungan yang baik, yang tujuannya adalah penerimaan secara utuh atas kepribadian lawan jenis kita, baik kepribadiannya yang positif maupun yang negatif. Sebuah pemakluman atas kepribadian pasangannya. Dengan demikian, dalam predebatan itu saya berpendapat bahwa pacaran sebagai kegiatan yang kurang diperlukan karena bisa dilewati dengan proses pengenalan yang lebih mendalam untuk bisa mencapai penerimaan yang utuh tersebut. kaitannya dengan “komitmen”, saya merasa komitmen adalah tahap dimana seseorang mencapai penerimaan yang utuh tadi atas individu lain. Jika tidak bisa menerima secara apa adanya maka komitmen tidak akan tercapai. Dan sepertinya inilah sumber perdebatan kami.
Saya merasa dalam pacaran perasaan kita sebenarnya akan terdistorsi (bias) oleh ilusi-ilusi yang terbentuk dari kemisteriusan dan penerimaan yang belum utuh. Mereka-mereka yang bisa mempertahankan hubungan ini adalah mereka-mereka yang bisa menyingkirkan distorsi-distorsi ini dan terus membangun keteguhan hati. Inilah mengapa banyak orang yang tidak teguh pada pasangannya akan menuju pada berakhirnya label “pacaran”. Bagi saya, daripada mengalami hal seperti ini, mending tidak usah pacaran, lebih baik membangun keteguhan hati dan komiten tanpa label “pacaran”, sesuatu yang sepertinya tidak lazim pada zaman ini. Pada perdebatan itu saya mengutarakan pacaran adalah kegiatan yang kurang efisien. Karena dalam pacaran akan muncul kebutuhan dan keterikatan yang tidak pasti.
Kami terpecah menjadi dua kubu, saya dengan pendapat saya, Dedy dan Freddy dengan pendapat mereka yang serupa. Pendapat mereka dan saya tentang komitmen dalam hubungan dan dalam berpacaran beradu pada pendefinisian dan penganalogian yang berbeda. Saya menganalogikan komitmen adalah hal yang terbentuk dari penerimaan yang utuh antara dua individu. Sedangkan mereka menganalogikan komitmen sebagai hasil dari kesepakatan yang tercipta dari penerimaan yang diinspirasi kecocokan yang dilanjutkan untuk mentaati kesepakatan itu baik di antara AKU dan SAYA dan di antara AKU dan SAYA (dalam satu individu) dengan individu lainnya. Didalam analogi mereka tersirat sebuah “tanggung jawab” untuk melaksanakan kesepakatan yang ada. Setelah saya analisis, perbedaan analogi kami terletak pada keteguhan hati dalam menerima secara utuh (dalam analogi saya), dan keteguhan hati melaksanakan kesepakatan (dalam analogi mereka). Analogi mereka masih diperluas hingga dimungkinkan adanya kesepakatan dan kesepahaman baru yang mungkin bisa terbentuk dalam perjalanannya nanti, analogi saya hanya selesai sampai pada penerimaan yang utuh.
Sepertinya kami memperdebatkan hal yang serupa tapi tak sama. Kami dalam satu sisi yang tidak kami sepakati dalam perdebatan ini, sadar bahwa komitmen didasari adanya “kemauan” yang menggerakkan batin manusia. Mau menerima dan mau menjalani. Saya tidak tahu kenapa kami terus dan terus memperpanjang perdebatan. Kami berselisih pendapat mengenai komitmen dalam sudut pandang yang berbeda. Komitmen yang berhubungan dengan pacaran, versi mereka. Dan komitmen yang tidak ada hubungannya dengan pacaran, versi saya. Pada ujung perdebatan kami, mereka berdua menganalogikan komitmen dengan kontrak perjanjian. Dalam kontrak perjanjian terdapat kesepahaman dan keinginan yang sama yang disepakati. Dampak kontrak tersebut adalah kesepakatan untuk sama-sama menajalani isi kesepakatan. Menjalani kesepakatan itu yang mereka analogikan sebagai komitmen. Tetapi saya masih menyangkalnya. Bagi saya menjalani kesepakatan adalah sebuah afirmasi dari kontrak perjanjian. Begitu juga menjalani sebuah hubungan, menjalani pacaran, juga merupakan afirmasi atas apa yang disepakati, dan afirmasi atas hubungan itu sendiri. Sepertinya lewat analisis saya dengan media menulis ulang perdepatan kami bertiga, saya mendapati makna dari komitmen. Komitmen adalah niat, keteguhan hati atas sebuah hal. Asal muasalnya sepertinya bermacam-macam. Bisa dari pacaran, bisa juga tanpa pacaran, bisa dari kesepakatan, dan hal-lainnya.
Pembahasan, perdebatan, penganalogian mengenai komitmen ini membawa kami mengarungi samudra batin pemikiran manusia yang tidak terbatas, abstrak, dan mengalir turun ke dunia fana lewat pembuluh yang berbeda-beda. Komitmen, saya hanya bisa meraba-raba. Sebuah proyeksi atas perasaan manusia yang abstrak. Sama, seperti halnya cinta, kasih sayang, dan kentut. Bisa dirasakan, tetapi sulit dilukiskan karena wujudnya yang tak kasat mata.

tuitt tiuuttt

Foto ZuLsrhi Cie Drafa Zutto.